Rabu, 02 Mei 2012

Azolla microphylla bahan pupuk organik yang baik




Azolla microphylla BAIK UNTUK
PEMBUATAN PUPUK ORGANIK dan  GO CLEAN AGRICUTURE?
(Pengetahuan tentang Azolla microphylla, manfaat keharaan dan pakan, serta komparasi teoritik dan praktikal dengan Bahan Legum untuk Agroekosistem)

Oleh:
Purwandaru Widyasunu
Laboratorium Tanah/Manajemen Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, Unsoed
HP/: 0281- 5146969/08164282696
By. August 2011

Abstrak
Sejak tahun 2001 Pemerintah telah mencanangkan budidaya tanaman pangan dengan tatakelola organik dan telah ditegaskan lagi bahwa pada tahun 2010 lalu harus mulai Go Organik. Pada kurun waktu itu terjadi kesulitan pengadaan bahan pembuatan pupuk organik dan kesulitan tenologi pengkomposan di tingkat petani karena selama masa revolusi hijau hanya hampiur 100 % mengandalkan penggunaan pupuk sintetik pabrikan. Setelah tahun 2010 berlalu dengan melihat pada kesulitan sistem terutama input budidaya aneka komoditas (tanaman pangan, kebun, hutan), maka pasti akan ditetapkan Go Inputan Organik. Alasan harus go organik adalah penambangan material pupuk sangat merusak ekosistem dan pasti high energy and high cost – though fully risk for ecosystem due to atmospheric, terresterial, and body water damaging hazard. Namun demikian petani dan penyuluh pertanian mengalami kegalauan terutama untuk mendapatkan material pembuatan pupuk organik untuk meningkatkan kandungan ideal (5 persen) bahan organik tanah. Tatakelola budidaya organik salah satu intinya adalah pengelolaan kesuburan tanah secara organik-biodinamik. Azolla microphylla adalah tanaman paku air yang di dalamnya hidup simbionnya Anabaena azollae. Paku air tersebut telah diteliti oleh penulis dan peneliti lain pada budidaya tunggalnya maupun budidaya tumpangsari antara tanaman Padi-Azolla dan mempunyai manfaat luar biasa untuk ketahanan pangan berbasis penggunaan lahan sawah. Manfaat luar biasanya adalah: menurunkan volatilisasi amoniak dari perairan dan tanah sawah, menambat N2 atmosfer, kandungan hara makro dan mikro biomassnya tinggi sampai cukup tinggi, mudah menggandakan diri (doubling time) prospek tropika hanya dalam 2 malam, kisaran prospek produksi biomass optimal di tropika bisa mencapai 20-30 ton/ha kering tiris dalam 20-30 hari, tumpangsari dengan padi bermanfaat pengelolaan keharaan autogenik in-situ, meningkatkan produksi padi, dan prospek tinggi biomassnya untuk pembuatan pupuk bokashi dan pupuk organik cair di tingkat petani maupun industri. Pengelolaan Azolla microphylla memerlukan rekayasa:  teknis, tata ruang, rekayasa sosial-budaya, agronomis, dan keindustrian berbasis pemberdayaan kelompok tani. Transformasi iptek dan riset dengan metode parisipatif on-farm akan mendorong petani untuk segera go padi organik. Tulisan ini diharapkan dapat menjelaskan prospek pengembangan Azolla microphylla untuk memandirikan pertanian Indonesia yang dapat diacu oleh mahasiswa, petani, PPL, dan peminat pertanian alami organis.
Kata kunci: Azolla microphylla, pupuk organic, kompos, bokashi, pupuk organic cair.

1.      Apakah Azolla itu ??
Azolla adalah tanaman paku air yang mampu hidup di perairan tawar dengan ketebalan air optimal 3-5 cm atau bahkan pada permukaan tanah yang lembab. Azolla bersimbiosis dengan simbionnya yaitu Cyanobakteria Anabaena azollae, sehingga mampu memfiksasi N2 (BNF= biological nitrogen fixation) dari atmosfer. Penulis cukup lama  (tahun 1996 – 2011) meneliti prospek Azolla (tanaman paku air) yaitu spesies Azolla  microphylla.  Pada penelitian awal (1996-1997, 2001, 2003, 2006) diketahui bahwa pada tumpangsari Padi-Azolla Azolla  microphylla (Am) mampu menurunkan volatilisasi NH3 (93-97%) lahan basah, meningkatkan produktivitas tanah sawah, dan menyediakan biomassa untuk pembuatan pupuk organik.  Selain itu penelitian lain menyatakan produksi biomassa Am pada lahan sawah adalah antara 15-20 ton kering tiris/ha/2 minggu, nisbah C/N 14-15, kandungan C-organik 40-43 %. Kandungan biomassa Am  kering mengandung total N basah tiris 2,80 – 3,04 % (kering 5 – 6 %), P2O5 2,02 – 2,10 %; K2O 9,06 – 9,72 %, Ca total 5,88 – 6,20 %; Mg total 0,06 – 0,09 % dan  C-organik 40,75 – 42,88 % (data primer Widyasunu, 2009). Kandungan K dan Ca dari Am ternyata bisa tinggi bila air dan lumpur habitatnya berkandungan K+ dan Ca2+ tinggi; feed-backnya Am berprospek menjadi penyerap kation tersebut. Dengan demikian, Azolla sangat prospektif untuk mendukung pertanian organic atau program “ go organic 2010” dan seterusnya. Hanya saja kita harus melihat pada pertimbangan criteria kualitas pupuk organik menurut Permentan dan ketersediaan bahan organic lain untuk digunakan meramu pupuk organic (curah, cair).

2.   Review Kemajuan Riset Dasar dan Agronomis Azolla microphylla
Azolla merupakan tanaman paku air yang menghendaki lingkungan berair yang tenang (placid) namun tetap bisa hidup pada air bergerak tidak terlalu cepat dan pada permukaan tanah yang lembab. Habitat Azolla adalah lingkungan air terutama kolam, sawah dan saluran-saluran air (Lumpkin dan Plucknett, 1982), dilaporkan pula terdapat pada rawa-rawa dekat pantai dan pada sungai-sungai di benua Amerika maupun benua Asia dan kawasan kepulauannya.  Nama daerah (lokal) Azolla tentunya di seluruh dunia berbeda, di pulau Jawa khususnya di Jawa Tengah terkenal namanya dengan apon-apon dan di Banyumas namanya apu-apuhan. Azolla, azo artinya mau kering dan ollyo artinya akan terbunuh, jadi artinya bila biomassnya menjadi kering tanaman tidak akan hidup. Azolla adalah genus dari paku air dengan heterospora yang berkembang dari satu sel awalan (leptosporangiate) (Lumpkin dan Plucknett, 1982). Ada tujuh spesies Azolla yaitu A. caroliniana, A. filiculoides, A. mexicana, A. microphylla, A. rubra, A. nilotica, dan A. pinnata. Azolla microphylla  dicirikan oleh trichome hanya pada lembar daunnya, kondisi masih berkembang tiap frond-nya berdiameter horisontal 1-3 cm dan mempunyai dua atau lebih flabelliform rhizome utama dengan cabang lateral. Warnanya hijau muda sampai hijau agak tua dengan sedikit warna lebih kuning dari spesies lainnya; akar panjangnya bisa 1-2 cm bila tumbuh subur. Temperatur udara yang sesuai untuk Azolla berkisar antara 20-35°C, sedangkan keperluan pH air/lumpur  juga juga bervariasi antara 4-7 dan bertahan pada penerimaan pencahayaan > 25 % (Lumpkin, 1987); pada pH masam 4,5-5,0 kolam nutrisi fermentative juga masih berkembang beberapa hari namun akan ikut terdekomposisi setelah lebih dari satu minggu (Widyasunu et al., 2011 d). A. microphylla dapat berkembang dengan optimal di wilayah kabupaten Banyumas baik pada saat musim hujan maupun kemarau asalkan ada suplai air di sawah, pada kondisi sedikit melumpur masih bertahan untuk berkembang, pH air antara 6,0-8,5 masih berkembang baik, temperatur udara 28-30° C belum menunjukkan daun terbakar (Widyasunu, 1997), namun bila penyinaran sampai permukaan frond (populasi) melebihi 70-80%  A. microphylla menunjukkan daun coklat dan terbakar sehingga pertumbuhan dan perkembangan juga terhambat (data primer Widyasunu, 2009), namun dapat diperbaiki dengan pemberian fosfat dan glukosa (data primer Widyasunu, 2010). Menurut Tel Or et al. (1991), gula (sukrosa, fruktosa dan glukosa) mampu meningkatkan fiksasi N udara oleh Cyanobacteria simbion dari Azolla karena alga biru hijau tersebut memerlukan gula sebagai sumber karbon. Mekanisme penggunaan gula oleh Cyanobacteria dalam Azolla dapat direview dalam tulisan berbagai tim peneliti dalam Tel Or et al. (1991).
Azolla micropylla mampu menghasilkan N dalam ekosistem perairan karena dalam rongga-rongga kamar daunnya tersimpan hidup Anabaena azollae secara mutualistik yang mampu memfiksasi N2 udara (Lumpkin dan Plucknett, 1982).  Oleh karena itu, Azolla-Anabaena azollae mampu menyumbang N-BNF bagi padi sawah (Lumpkin, 1987; Mabbayad, 1987; Johal, 1986; Roger dan Ladha, 1992).  Di samping itu Azolla juga dilaporkan oleh banyak peneliti mampu meningkatkan efisiensi pemupukan urea (Moeller, 1994; Vlek et al., 1995; Widyasunu, 1997; Widyasunu et al., 1998). Di Thailand (Loudhapasitiporn dan Kanareugsa, 1987), Filipina (Roger dan Watanabe, 1977; Mabbayad, 1987), India (Kannaiyan, 1987), Cina (Zhang et al., 1987), dan banyak negara lainnya (IRRI, 1987), Azolla telah lama dikembangkan dan hasilnya mendongkrak produksi padi nasional negara-negara tersebut karena tingginya efisiensi pemupukan nitrogen-urea, bahkan masih berlangsung hingga saat ini.  Di Indonesia Azolla juga pernah dikembangkan namun belum mendapatkan perhatian serius oleh Departemen Pertanian walaupun telah diketahui manfaat yang luar biasa dari Azolla. Penelitian manfaat agronomis Azolla di Indonesia belum banyak ditemukan setelah tahun 1990 (studi jurnal SSAJ 1990– 2000), namun di Jerman (Cisse dan Vlek, 2003) dan di Filipina (De Macale dan Vlek, 2004) pada tahun-tahun tersebut masih menelitinya. Sudah saatnya sekarang di Indonesia dikaji manfaat Azolla namun lebih ditekankan untuk pemanfaatannya sebagai biomass pembuatan pupuk organik, sebagai metode BNF dalam dual cropping padi organik-azolla, dan perencanaan pemanfaatannya ke arah mengatasi pemanasan global dan sebagai sumber energi.
Kalau manfaat luar biasa Azolla microphylla bagi dunia pertanian dan lingkungan tidak segera dikaji sampai advance, maka hal itu akan menunda keputusan kita untuk segera memandirikan petani dan pertanian dan menunda upaya kita melindungi planet bumi kita dari cepatnya peningkatan pemanasan global. Azolla di China utara (You, et al., 1982), penangkapan N2 udara (BNF) oleh azolla pada sistem dual crop padi-azolla adalah sebesar 40-60 %/musim atau hitungannya setara 5 kg N/ha/5-6 hari pada kondisi iklim optimal. Pada tahun 2009 (data primer Widyasunu, 2009), Azolla microphylla yang di kembangkan secara mini bank di Purwokerto, kandungan N nya sebesar 5 – 6 % biomass kering udara, hitungan kemampuan fiksasi N2 adalah 500 – 600 kg N/musim. Perlu saya tambahkan lagi bahwa Azolla sangat perlu dipraktikkan dengan serius sebagai komoditas baru sebagai bahan input pupuk murah, juga sebagai bahan pakan ikan dan ternak darat (Widyasunu et al., 2010).  Selanjutnya diperlukan rekayasa social budidaya pada tingat masyarakat tani yang harus di-backup oleh Pemerintah dan Perguruan Tinggi.
Kemampuan Azolla microphylla memfiksasi N lebih tinggi dibandingkan dengan Crotalaria rostrata yang hanya sebesar 303 kg N/ha/th (Roger dan Ladha, 1992).  Tulisan saya yang lain saya sajikan di belakang untuk mengetahui perbandingan antara Azolla dengan biomassa tanaman bahan pupuk lainnya dan kotoran hewan. Potensi itu menjadikan Azolla sangat strategis dikembangkan sebagai sumberdaya basis pengembangan pupuk organik di pedesaan. Potensi memfikasasi Azolla paling mutakhir dapat didekati dengan persen kandungan N yaitu 5 – 6 % dalam biomassanya (Widyasunu, 2009), apabila dianggap pembebasan N bersih sebesar 70 % nya maka N terbebas autogenik potensinya bisa sebesar 350–420 kg N/ha/musim tanam padi. Selain pemfiksasi N jumlah tinggi, Azolla juga mudah berkembangbiak pada lahan sawah, namun tidak merupakan saingan padi dalam hal penggunaan hara kalium, biomassanya yang tenggelam pada lumpur mudah terdekomposisi dan membebaskan amonium sebanyak 62-75 % dari total N dalam waktu 6 minggu (Watanabe et al., 1977). Widyasunu (1998) mendapatkan waktu dekomposisi N dari biomass Azolla juga tidak lebih dalam 6 minggu. Azolla hidup mampu mengikat N udara karena Anabaena, namun juga mampu mengimobilisasi 68 % N pupuk-15N, namun 45 % nya mengalami re-mineralisasi setelah panenan padi (Cisse dan Vlek, 2003).  De Macale dan Vlek (2004), melaporkan bahwa pupuk-15N terserap 77 – 99 % oleh padi yang dibudidayakan tumpangsari dengan Azolla. Data nisbah C/N Azolla microphylla paling akhir menunjukkan kisaran 14,09 – 14,57 kondisi kering oven, sehingga Azolla microphylla memang cepat terdekomposisi (Widyasunu, 2009). Narasi sejarah antara tahun 1995 – 2009 tersebut menunjukkan bahwa Azolla masih sangat baik untuk menolong petani dalam menghambat volatilisasi amoniak dan berpotensi besar sebagai pabrik N-BNF hidup dan keharaan makro dan mikro lahan sawah yang berkelanjutan. Data dan informasi riset dasar dan aplikatif agronomis/lingkungan terdokumentasi dengan baik oleh penulis.
3.   Tatakelola pemanfaatan Azolla microphylla untuk Go Organic: prospek, ke-lemahan, dan terobosan
Potensi Azolla tersebut di atas menjadi alasan kuat bagi Azolla untuk dikembangkan di lahan persawahan menjadi sumber hara N pengganti pupuk urea dan sebagai sumber hara makro lainnya dan hara mikro (Johal, 1986). Guna memperkaya kandungan hara kompos asal Azolla tinggal ditambahkan dengan bahan lain yang sudah tersedia di pedesaan (kotoran ternak, sisaan tanaman) dan menggiatkan lagi pengembangan Crotalaria sp. Widyasunu (1997), telah membuktikan bahwa Azolla microphylla sangat baik dikembangkan pada sawah wilayah iklim tropika dan telah berhasil didayagunakan dalam penelitian untuk menekan tingkat volatilisasi amoniak pupuk urea sehingga meningkatkan efisiensi pemupukan urea. Azolla microphylla sangat layak untuk didayagunakan sebagai agen fiksasi N atmosfer dan efisiensi penggunaan hara untuk tanaman padi dan tanaman lainnya pada lahan sawah.
Azolla microphylla telah diidentifikasi oleh Watanabe et al. (1992) dalam Roger (1995), sebagai spesies Azolla yang toleran dikembangkan pada sawah wilayah tropik bersuhu tinggi (kisaran 37° C siang hari - 29° C malam hari). Hasil pengamatan mutakhir (data primer: Widyasunu, 2010) menunjukkan Azolla microphylla mampu menghadapi panas lingkungan siang hari dan dingin lingkungan sekitar sawah malam hari lebih baik setelah diberikan living organism basic organic + glukosa (Widyasunu et al., 2010). Hal tersebut merupakan perbaikan terhadap kelemahannya di tropika yang selain oleh panas berlebihan juga harus suplai fosfat tinggi  (Lumpkin dan Plucknett, 1982); fosfat bisa diantisipasi oleh P-organik (Widyasunu, 2006).
Tatakelola pemanfaatan Azolla microphylla sebagai subyek pengelolaan kesuburan tanah organik-biodinamik untuk go budidaya padi organik meliputi pendekatan: (i) teknis, (ii) tata ruang, (iii) rekayasa sosial-budaya, (iv) agronomis, (v) keindustrian berbasis pemberdayaan kelompok tani, dan (vi) penata layanan sistem budidaya organik-biodinamik. Aspek-aspek pendekatan tersebut selanjutnya difungsikan dalam bentuk program kegiatan sistem pertanian organik yang padu sehingga terjadi sinergi pelaksanaannya. Pemaparannya disajikan pada paragraf-paragraf berikut.
  Metode teknis yang dipergunakan untuk pengembangan Azolla sebagai basis pengelolaan kesuburan tanah yang organik-biodinamik dapat didekati dengan model percontohan bank mini Azolla di pedesaan, demplot budidaya Azolla di persawahan secara tunggal maupun tumpangsari padi-Azolla, dan percontohan pembuatan bokashi dan pupuk organik cair berbasis biomass Azolla. Inti metode ini adalah transformasi iptek budidaya Azolla, pemanfaatan agronomis dan produksi pupuk organik. Metode ini akan sangat berkaitan dengan tatakelola berikutnya terutama tataruang, dan seterusnya pada paragraf di atas. Pengembangan bank Azolla akan sangat penting karena merupakan infrastruktur konservasi biomassa hidup Azolla.
Tatakelola pengembangan Azolla microphylla juga memerlukan regulasi tataruang lahan sawah dan pekarangan kelompok tani. Kelompok tani merupakan inti pengembang iptek Azolla, sehingga pengerahan SDM dan rembug desa tentang tataruang sangat krusial. Bank Azolla berupa petak kecil dari kayu atau kolam kecil di pekarangan rumah petani andalan dan petak pembiakan ruah Azolla pada tiap musim tanam padi pada lahan petani andalan harus disepakati, didukung dan dibiayai oleh kelompok tani. Pembiakan ruah biomassa Azolla perlu disiapkan tiap musim tanam untuk inokulasi Azolla pada teknologi budidaya tumpangsari padi organik-Azolla. Produksi padi organik memerlukan iptek tatakelola khusus menyangkut teknik perbanyakan Azolla dan produksi bokashi/POC berbasis Azolla. Menurut pengalaman penulis, inokulasi awal Azolla microphylla 1 t/ha kering tiris akan menghasilkan 10-20 t/ha kering tiris dalam waktu rata-rata rentang 10-20 hari, sedangkan bila awalnya 1,5 t/ha pencapaiannya bisa kurang dari 20 hari. Hitungan tersebut bisa dijadikan dasar pendekatan rekayasa jumlah sub kelompok tani go padi organik yaitu per 10 hektar (20-40 petani). Ketersediaan inokulan multiplikasi Azolla microphylla sebesar 1-1,5 t/musim bisa untuk memulai go organik paling tidak untuk 10 ha lahan sawah. Sumber inokulan multiplikasi adalah bank Azolla sub kelompok tani.
Rekayasa sosial-budaya petani adalah proses modifikasi kelembagaan unit kecil kelompok tani menjadi sel organisasi terkecil yang akan dijadikan pusat transformasi iptek teknologi pemanfaatan Azolla microphylla. Modifikasi kelembagaan memerlukan pendekatan partisipatif tokoh tani sel organisasi yang bisa berwujud sub kelompok tani. Tujuan modifikasi adalah kesuksesan transformasi iptek, kesepakatan pelaksanaan bank Azolla dan multiplikasinya yang berkaitan erat dengan tataruang, dan sukses rencana go budidaya padi organik.
Pendekatan agronomis adalah proses transformasi iptek khusus budidaya tumpangsari Padi organik-Azolla microphylla (Am), termasuk pula pola tanam tanaman pangan organik pasca musim padi. Karakter kehidupan Am dan varietas padi organik lokal, dan pembelajaran bioteknologi tanah dan ekologi tanah/lahan perlu dilaksanakan. Jarak waktu inokulasi Am dengan waktu tanam padi, jarak tanam padi (model SRI/non-SRI), dan prinsip tatakelola keharaan biodinamik perlu akurasi sehingga tidak berbeda antara riset dengan faktual on-farm. 
Pengembangan industri pupuk organik berbasis biomassa Am yang dikembangkan sendiri oleh sub kelompok tani atau minimal kelompok tani akan menunjang pengadaan pupuk organik secara kolektif. Namun demikian semakin banyak jumlah anggota yang dilayani maka akan bisa semakin kompleks manajemen dan masalah yang muncul. Industri pupuk organik yang dimunculkan bisa berupa produksi pupuk organik padat dan pupuk organik cair, sangat dimungkinkan pula dirangkaikan dengan produksi pestisida hayati atau organik karena prinsipnya sama yaitu fermentasi bahan pupuk dan pestisida. Biomassa Am dapat dijadikan bahan ruah utama produksi pupuk organik, dengan demikian produksi biomass Am sangat dibutuhkan mutlak. Pupuk hayati atau bisa disebut agensia hayati yang akan digunakan sebagai biang pengkomposan dapat dibuat sendiri oleh kelompok tani maupun memakai produk pabrikan. Namun demikian harus jelas komposisi mikroba yang terkandung untuk memproses material organik menjadi pupuk organik berkualitas.
Penata layanan sistem budidaya organik-biodinamik diperlukan untuk merancang tatalaksana dan tatakelola budidaya tanaman pangan berbasiskan penggunaan lahan sawah beririgasi karena pemanfaatan Am lebih tepat dan paling mudah pada lahan tersebut. Pada saat musim penghujan atau selama ada air irigasi mencukupi maka dikembangkan budidaya multiplikasi Am dan tumpangsari padi organik-Am. Setelah musim tanam padi (bisa satu atau dua kali) adalah pembudidayaan tanaman pangan non-padi yang sebaiknya berkaidah organik-biodinamik. Oleh karena itu sangat diperlukan ketersediaan bokashi dan pupuk organik cair berbasiskan Am karena biomassanya telah disediakan pada teknologi go organik berbasis Azolla microphylla.
4.   Hasil-hasil Pemanfaatan Azolla microphylla paling baru untuk PKM
Berikut ini disajikan foto-foto kegiatan PKM dan riset menggunakan Am sebagai basis   inputan dalam budidaya tanaman dan ikan. Tentang pembuatan bokashi-basis Am dan POC-basis Am formulasi pelengkap basis Am terdiri dari kotoran hewan, buah dan sayur sisaan dari pasar,dan ditambahi secukupnya kepala ikan atau jerohan ikan (sisaan pasar). Apabila dalam suatu perdesaan dapat dikembangkan legume bahan peruah dan peragam pupuk organic maka kualitas pupuk organic akan semakin baik.

Gambar 1.  Azolla microphylla pada kolam konservasi di Ciwarak, Kec. Sumbang, Kab. Banyumas (Sumber:Widyasunu, 2010)

Gambar 2. Contoh bokashi-Am 60 % yang digunakan untuk budidaya tananam dan ikan, serta pengkondisian probiotik organic kolam ikan. Bokashi bisa dibuat dengan basis Am sampai 70 % (Sumber:Widyasunu, 2011).

Gambar 3. Kolam budidaya ikan lele dumbo (bibit ukuran 5/7) dan pakan buatan sendiri yang berbahan antara lain biomassa Am 20-30 % (suplemen) (Sumber: Widyasunu, 2011).


Gambar 4. Budidaya Cay-sim menggunaan bokashi Am-60% dan POC-Am 40 % 
(Sumber: Widyasunu, 2011).
.

       Gambar 5. Budidaya ikan nila diberi pakan Am segar (Sumber: Widyasunu, 2011).
.
Hasil analisis bokashi berbasis Azolla microphylla (bokashi-Am 60 % dan POC-Am 40 %) yang pernah digunakan untuk budidaya padi pandanwangi metode SRI:
Tabel 1. Hasil analisis laboratorium bokashi dan POC basis Am
Parameter
Satuan
Hasil uji
Permentan 2009
Keterangan
Bokhasi
POC
bokhasi
POC
Karbon organik
Nitrogen total
C/N ratio
P2O5 total
K2O total
Kadar air
pH H2O
Bahan ikutan
%
%

%
%
%

%
26,835
2,090
12,84
2,477
0,648
37,265
7,38
0
17,155
0,208
82,48
0,188
0,352
-----
4,01
-----
     ≥ 12
< 6
15 - 25
< 6
< 6
15 – 25
4 - 8
< 2
≥ 4
< 2

< 2
< 2
-----
4 - 8
< 2
Memenuhi
Memenuhi
Memenuhi
Memenuhi
Memenuhi
-----
Memenuhi
Memenuhi
Sumber : Analisis Laboratorium Ilmu Tanah, 2010
               Peraturan Menteri Pertanian No.28/Permentan/OT.140/2/2009

Berdasarkan di atas dapat diketahui bahwa bokhasi dan POC basis Azolla microphylla yang digunakan sudah memenuhi syarat pupuk organik menurut Peraturan Menteri Pertanian No.28/Permentan/OT.140/2/2009.  Kandungan N total pupuk organik yang kurang dari 6 %, 50 sampai 75 %  nya adalah N-organik, sementara sisanya 25 sampai 50 % adalah NH4 (Havlin et al, 2005). Ketersediaan N bagi tanaman tergantung pada mineralisasi N organik dalam pupuk. Kecepatan dekomposisi bahan organik ditunjukkan oleh perubahan imbangan C/N. Selama proses mineralisasi, imbangan bahan yang banyak mengandung N akan berkurang menurut waktu. Kecepatan kehilangan C lebih besar dari pada N sehingga diperoleh imbangan C/N yang lebih rendah (10-20). Apabila imbangan C/N sudah mencapai angka tersebut, artinya proses dekomposisi sudah mencapai tingkat akhir atau kompos sudah matang (Simamora dan Salundik, 2006). Bahan baku Am 40 dan 60 %, kohe ayam sapi 30-40 %, hijauan dan jeroan ruminansia 10-30 %.
5.      Tanaman Legume dan Kandungan Nitrogen
Tanaman pangan memberikan diet kepada manusia kalori sebesar 90 % dan memberikan diet protein sampai dengan 90 % untuk penduduk di wilayah tropika seluruh dunia. Konsumsi bijian legume mengandung protein sebesar 17-34 %. Untuk legume bijian dan legume sayur memberikan protein berkisar antara 15-25 %. Tanaman legume berkembang di seluruh penjuru dunia dan juga di Indonesia karena luasnya dan dalamnya kebutuhan manusia dan hewan ternak akan biji dan daun tanaman tersebut. Adanya variasi ternak dan kemungkinan daunan dan bijian legume untuk campuran pakan ikan akan sangat berprospek menambah semangat kita mengembangkan pertanian campuran aneka tanaman pangan legume, tanaman pangan non-legume, dan aneka tanaman buah dan herbal dalam suatu hamparan bersama kelompok tani. Tabel 1 menyajikan potensi perolehan N pada tiap spesies legume/ha dan spesies legume/tanaman.
Tabel 2. Contoh tanaman legume yang dapat dikembangkan guna mendampingi program go organic di Indonesia

Spesies
Negara
Perlakuan

Total N tanaman (kg N/ha)
N2 diikat oleh tanaman (%)
Jumlah perolehan (kg N/ha/tanaman
Kacang tanah (Arachis hypogea)
Australia
Suplai air
171-248
0,22-0,53
37-131
Kultivar
254-319
0,55-0,65
139-206
Rotasi
181-247
0,47-0,53
85-131
Brasilia
Inokulasi
147-163
0,47-0,78
68-116
India
Kultivar
126-165
0,86-0,92
109-152
Kedelai (Glycine max)
Thailand
Kultivar
121-643
0,14-0,70
17-450
Indonesia
Rotasi
79-100
0,33
26-33
Kacangan umum (Phaseolus vulgaris)
Brasilia
Kultivar
18-71
0,16-0,71
3-32
Cowpea (Vigna unguiculata)
Brasilia
Lokasi/musim
25-69
0,32-0,70
9-51
Indonesia
Rotasi
67-100
0,12-0,33
12-22
Centrosema pubescens
Malaysia
-----
299
0,50
150
Pueraria phaseloides
Malaysia
Tiap 41-60 hari (pemetikan)
24
0,92
22
Tiap 61-80 hari (pemetikan)
44
0,86
38
Albizia falcataria
Filipina
-----
-----
0,55
-----
Lanjutan Tabel 2.

Spesies
Negara
Perlakuan

Total N tanaman (kg N/ha)
N2 diikat oleh tanaman (%)
Jumlah perolehan (kg N/ha/tanaman
Gliricidia sepium
Australia
Tiap 90 hari (pemetikan)
132
0,75
99
Leucaena leucocephala
Malaysia
Tiap 3 bulan pemetikan
296-313
0,58-0,78
182-231
Sesbania cannabina
Australia
Musiman pemetikan
136-202
0,70-0,93
126-141
Sesbania grandiflora
Indonesia
Tiap 2 bulan pemetikan
-----
0,79
-----
Sesbania rostrata
Filipina
Tiap 45-55 hari pemetikan
157-312
0,88-0,91
140-286
Sesbania sesban
Indonesia
Tiap 2 bulan pemetikan
-----
0,84
-----
Senegal
Tiap 2 bulan pemetikan
54-100
0,13-0,18
7-18
Crotalaria juncea *)
-----
-----
105-129
Kandungan N 0,30 % bobot basah
-----
Crotalaria anagyroides *)
-----
-----
98
Kandungan N 0,33 % bobot basah
-----
Crotalaria quinquefolia *)
-----
------
88
Kandungan N 0,19 % bobot basah
-----
Sumber: Peoples dan Craswell (1992).
             *) Roger (1995).

Tanaman legume telah lama dikembangkan untuk pemenuhan kebutuhan manusia akan pangan, hijauan pakan ternak, tanaman peneduh, hasil minyaknya, hasil kayunya, dan biomassnya untuk pembuatan kompos. Semua kebutuhan atau tujuan budidaya tanaman legume tersebut berada pada system pertanian:
(i)      Sistem pertanaman: legume dikembangkan dalam rotasi atau tumpangsari antara tanaman non-legume dan legume, baik tujuannya legume untuk tanaman pokok atau tanaman sisipan atau tanaman penghasil pupuk hijau.
(ii)    Perkebunan/pekarangan: legume dikembangkan sebagai tanaman penutup tanah, tanaman pangan, dan tanaman peneduh, legume tersebut ditanam merupakan barisan dalam barisan tanaman industry atau buah. Tanaman industry yang dikembangkan contohnya kepala, kopi, kokoa, teh, karet, cengkeh. Tanaman buah yang dikembangkan contohnya rambutan, mangga, rambutan, durian, kelengkeng.
(iii)          Sistem agroforestry/hutan tanaman rakyat: legume (semak) dikembangkan bersama dengan tanaman pohonan multi guna dan dikombinasikan  dengan tanaman pangan dan tanaman pakan ternak. Di dalam sistem umumnya juga dipelihara aneka hewan ternak.
(iv)       Sistem padang penggembalaan: system ini jarang ada di Indonesia, namun bila ada perlu modifikasi manajemen dan ekosistem yang diarahkan untuk system pertanian organic-biodinamik komoditas campuran. Tanaman legume umumnya dikembangkan untuk fungsi pakan ternak dan peneduh bersama tanaman rumput pakan ternak.
(v)         Sistem baru: perlu pengembangan atau penciptaan namun dilaksanakan yaitu menanam tanaman legume pada areal lahan perdesaan kosong yang belum termanfaatkan, contohnya adalah lahan pinggiran jalan, lahan galengan sawah atau memanfaatkan lapangan yang umum dijumpai di wilayah perdesaan di Indonesia. Fungsi lain yang sangat penting yaitu membantu program PBB untuk mulai menanam satu orang satu pohon apapun oleh setiap manusia pada jenis kelamin dan usia berapapun. 
Tanaman legume yang ditanam (tujuan luas) atau dibudidayakan (tujuan spesifik) seperti telah dijelaskan di depan, bahwa legume mempunyai manfaat khusus yaitu kemampuan mengikat N2 udara menjadi N dalam bakteri kemudian menjadi N dalam tubuh tanaman (amoniak) dan kalau tanaman dimanfaatkan sebagai pupuk hijau atau bahan kompos akan melepaskan N protein/asam amino. Selain N maka jaringan legume yang terdekomposisi akan melepaskan unsure hara lainnya baik makro maupun mikro, namun kandungannya sangat tergantung pada spesies legume dan suplai/masukan hara dari tanah pada saat/musim tersebut/tertentu. Manfaat jaringan tanaman legume yang sengaja/dirancang sebagai bahan pembuatan pupuk kompos/bokhasi adalah bertujuan utama memperoleh kadar hara N relative tinggi pasca dekomposisi dari legume. Untuk itu diperlukan menyajikan jumlah N yang dapat disumbangkan oleh tanaman legume yang didapatkan dari N perolehan N2 udara (N-pud).
6.   Pupuk Organik Bokhasi: pengertian dan bahan-bahan
Pupuk organik atau bisa disebut kompos merupakan senyawa organik sisaan vegetasi atau hewan yang mengalami dinamika perubahan sifat fisik dan kimia oleh faktor lingkungan fisik dan biologis. Faktor lingkungan fisik berupa temperatur, tekanan udara, dan kelembaban pada bahan. Faktor biologis berupa organisme perubah fisik (biasanya golongan hewan) dan perubah kimia yaitu terutama bakteri dan jamur. Secara ilmiah, pupuk organik dapat diartikan sebagai partikel yang bermuatan negatif sehingga dapat dikoagulasikan oleh kation dan partikel tanah untuk membentuk granula tanah.
Bokashi adalah penyebutan/penamaan pupuk organik menurut masyarakat Jepang terhadap bahan organik yangtelah mengalami proses dekomposisi secara sempurna oleh diversitas mikroba yang merombak secara bertahap sampai mendekati sempurna (asam humat). Di Indonesia bokashi dianggap sebutan untukpupuk organik sebagai bahan organik kaya akan agensia hayati. Sebenarnya menurut masyarakat Jepang juga sama dengan Indonesia yaitu peranan sentral dari mikroba dekomposer sebagai agensia hayati. Dengan demikian bokashi menurut saya akan lebih fundamental fungsinya sebagai pupuk sekaligus amelioran dan ”soil amandment to physicaly,chemically,and biologically improving processes”.
Pupuk organik memiliki peran penting bagi tanah karena dapat mempertahankan dan meningkatkan kesuburan tanah melalui perbaikan sifat kimia, fisika, dan biologis di dalamnya. Penambahan pupuk organik ke dalam tanah atau dihamparkan di permukaan tanah dapat memperbaiki sifat struktural dan koloidal tanah sehingga akan memperbaiki kondisi drainase, aerasi, absorpsi panas, kemampuan serap dan menahan air, serta sangat berguna untuk pengendalian erosi tanah. Pupuk organik juga bermanfaat untuk menggantikan unsur hara tanah dan menambah bahan organik tanah. Khusus yang terakhir ini pupuk organik akan merupakan metode manajemen dinamika karbon dan asam organik dalam tanah (kehumatan).
Penambahan pupuk ke dalam tanah akan menyebabkan satu atau beberapa jenis kation dibebaskan dari ikatannya secara absortif menjadi ion bebas yang dapat diserap oleh akar tanaman. Pemupukan menggunakan pupuk organik mengakibatkan tanah yang strukturnya ringan (tanah pasiran atau remah) menjadi lebih baik, yaitu daya ikat air meningkat. Sementara itu, terhadap tanah bertekstur berat (tanah liat) menjadi lebih optimal dalam mengikat air. Pupuk organik dapat meningkatkan penyerapan hara dari pupuk mineral oleh tanaman.
Komponen pupuk organik yang paling berpengaruh terhadap sifat kimiawi tanah adalah kandungan humusnya. Humus dalam pupuk organik mengandung unsur hara yang diperlukan tanaman. Humus yangmenjadi asam humat atau jenis asam lainnya (fulvat) dapat melarutkan zat besi (Fe) dan aluminium (Al) sehingga fosfat yang terjerap oleh Fe (kasus penambangan pasir besi) dan Al (kasus tanah ultisol atau andisol) akan terlepas sehingga dapat diserap oleh tanaman. Selain itu, humus merupakan penyangga kation yang dapat mempertahankan unsur hara senagai bahan makanan untuk tanaman. Kandungan unsur hara pupuk organik disajikan sebagai pada Tabel 1. Pupuk organik juga berfungsi pemasok makanan bagi mikroorganisme di dalam tanah seperti kapang, bakteri, actinomycetes, dan protozoa sehingga mempercepat proses dekomposisi bahan organik dalam tanah.
Tabel 3. Susunan unsur hara pupuk organik dan komposisi bahan organik sampah kota
Pupuk Organik
Sampah Kota
Unsur Hara dan Sifat Kimia lain
Kadar/ Nilai
Susunan Kimiawi
Rentang Kadar
Nitrogen (%)
1,33
Serat kasar (%)
4,1 – 6,0
P2O5 (%)
0,83
Lemak (%)
3,0 – 9,0
K2O
0,36
Abu (%)
4,0 – 20,0
Humus (%)
53,70
Amonium (mg/g sampah)
0,5 – 1,14
Kalsium (%)
5,61
N organik (mg/g sampah)
4,8 – 14,0
Pupuk Organik
Sampah Kota
Unsur Hara dan Sifat Kimia lain
Kadar/ Nilai
Susunan Kimiawi
Rentang Kadar
Besi (%)
2,1
Total Nitrogen (mg/g sampah)
4,0 – 17,0
Seng (ppm)
285
Protein (mg/g sampah)
3,1 – 9,3
pH
7,2
pH
5,0 – 8,0

Pengaruh pupuk organik terhadap sifat fisika tanah adalah bersifat memperbaiki (amelioran), sedangkan pupuk anorganik bersifat memperburuk (degradatif). Pupuk organik dapat membantu melonggarkan partikel tanah yang padat dengan cara membuka pori-pori yang merupakan saluran atau jalan bagi udara dan air (Tan, 2008). Humus yang terdapat di dalam kompos dapat memecah tanah liat menjadi lebih remah. Penambahan pupuk organik membuat struktur tanah liat menjadi lebih remah dan akan terbentuk lapisan tipis air yang menyelimuti setiap remah yang dapat dimanfaatkan akar (Tan, 2008).
Terhadap tanah pasiran, pupuk organik dapat menyatukan struktur pasir yang tadinya lepas-lepas (loss) menjadi agregat lebih besar (Miller dan Donahue, 1995). Struktur pencar akan berubah menjadi struktur beragregat remah atau granul kecil akibat pemberian pupuk organik pada tanah pasiran (kasus tanah pasiran pesisir= psamment). Akibat perubahan tersebut, tanah pasiran akan mempunyai kemampuan penyerapan air lebih besar demikian juga kemampuan menahan air lebih besar.
Bahan-bahan atau material yang dapat dipergunakan dalam pembuatan pupuk organik padat maupun pupuk organik cair asalnya bermacam-macam. Pada tingkat perkotaan dan pedesaan bahan-bahannya dapat diperoleh. Asal bahan-bahan disajikan sebagai berikut:
Limbah Pertanian:
o Limbah dan residu tanaman: jerami padi, sekam padi, gulma, batang dan tongkol jagung, dan potongan pagar tanaman.
o Semua bagian vegetatif tanaman: batang pisang, sabut kelapa, dan dedaunan.
o Limbah dan residu ternak: kotoran, limbah cair, dan limbah pakan.
o Pupuk hijau: lamtoro dan turi (Sesbania sp.), orok-orok (Crotalaria sp.), lupin, dan rerumputan.
o Tanaman air: azolla, enceng gondok, gulma air, dan ganggang biru.
o Penambat nitrogen: mikoriza, rhizobium.

Limbah industri:
o Limbah padat: kayu, kertas, serbuk gergaji, ampas tebu, limbah kelapa sawit, limbah pengalengan makanan, dan limbah dari pemotongan hewan.
o Limbah cair: alkohol, limbah pengolahan kertas, dan limbah pengolahan minyak kelapa.

Limbah rumah tangga:
o Sampah: tinja, urine, sampah rumah tangga, sampah kota, limbah dapur, smapah pasar.
o Garbage: limbah berasal dari tumbuhan hasil pemeliharaan dan budidaya, dapur rumah tangga dan rumah makan, pusat perbelanjaa, dan pasar.
o Rubish: limbah padat yang mudah terbakar misalnya kertas, kain, karton, kotak kayu, ranting, papan, dan hiasan tanaman.

Daftar Pustaka
Anas, I. 1989. Biologi Tanah dalam Praktek. Petunjuk Laboratorium. IPB, Bogor.
Cisse, M., and Paul L.G. Vlek. 2003. Conservation of Urea-N by Immobilization-Remobilization in a Rice-Azolla Intercrop. Plant and Soils 250: 95-104. 
De Macale, Maria Andrea, R. And Paul. L.G. Vlek. 2004. The Role of Azolla Cover in Improving The Nitrogen Use Efficiency of Lowland Rice. Plant and Soils 263: 311-321.
Etika N., D., P. Widyasunu., T. Agustono. 2009. Identification of Upland Characteristics for Land Degradation Potential of Logawa Sub-River Basin Banyumas Regency to Encourage It’s Rehabilitation Trough Conservation Crop Livestock Farming System. Proceeding of International Seminar on Upland For Food Security. Sub Topic: Cropping System and Land Conservation. Held in Agricultural Faculty of Unsoed. Nov., 7-8, 2009.
Handoko, I., Y. Sugiarto., dan Y. Syaukat. 2008.  Keterkaitan Perubahan Iklim dan Produksi Pangan Strategis: Telaah kebijakan independent dalam bidang perdagangan dan pembangunan. SEAMEO BIOTROP, Bogor, Indoensia.
Havlin, J.L, Samuel L. Tisdale, James D. Beaton, Werner L. Nelton. 2005.  Soil Fertility and Fertilizers, An Introduction to Nutrient management. Sevent edition. Pearson education, Inc.,Upper Saddle river , New Jersey.
He, Z.L., A.K. Alva, D.V. Calvert, and D.J. Banks.  1999.  Ammonia Volatilization from Different Fertilizer Sources and Effects of Temperatur and Soil.  Soil Science.  Oct’1999.  Vol. 164, No. 10: 750-758.
Heni, P., 2006. Kajian Pemanfaatan Bahan Organik Berbasis Azolla dan Batuan Fosfat Alam Terhadap Keharaan P Pada Tanah yang Disawahkan. Skripsi. Fakultas Pertanian, Unsoed, Purwokerto.
IHSS, 2000. IHSS 10.  Proceedings of 10th International Meeting of The International Humic Substances Society: Entering the Thrid Millenium with a Common Approach to Humic Substances and Organic Matter in Water, Soil and Sediments. 24-28 July 2000 in Touloese, France. Two Volumes.
Ismangil. 2009.  Potensi Batu beku, Kalsit, dan Campurannya Sebagai Amelioran pada Bahan Tanah Lempung Aktivitas Rendah. Disertasi. Program Pasacasarjana, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. 395 hal.
Johal, C.S.  1986.  Studies on The Utilization of Azolla-Anabaena Symbiosis by Flooded Rice.  Dissertation.  Georg-August University, Goettingen, Germany.
Kannaiyan, S.  1987.  Use of Azolla in India. In: Azolla Utilization.  Proceeding of The Workshop on Azolla Use.  Fozhon, Fujian, China. 31 March-5 April 1985. Pp. 109-117.
Kroeck, T.J., J. Alkamper, and I. Watanabe.  1988.  Effect of an Azolla Cover on The Conditions in Floodwater.  J. Agron and Crop Sci. 161: 185-189.
Kurnia Sari, 2006. Kajian Pemanfaatan Bahan Organik Berbasis Azolla dan Pupuk Urea Terhadap Keharaan N Tanah Sawah. Skripsi. Fakultas Pertanian, Unsoed, Purwokerto.
Kurniawan, Ruly E.K., and P, Widyasunu. 2009. Characterization of Volcanoes Upland Degradation Caused By Stone and Sand Mining and It’s Reclamation Scenario for Biomass Production. Proceeding of Inter-national Seminar on Upland For Food Security. Sub Topic: Agriculture Management. Held in Agricultural Faculty of Unsoed. Nov., 7-8, 2009.
Loudhapasitiporn, L., and C. Kanareugsa.  1987.  Azolla Use in Thailand. In: Azolla Utilization.  Proceeding of The Workshop on Azolla Use.  Fozhon, Fujian, China. 31 March-5 April 1985. Pp. 119-122.
Lumpkin, T.A., and D.L. Plucknet.  1982.  Azolla as Green Manure:  Use and Management in Crop Production.  Westview Press/Boulder, Colorado.
Lumpkin, T.A.  1987.  Environmental Requirement for Succesful Azolla Growth.  In:  Azolla Utilization.  IRRI, Manila, Philippines.
Mabbayad, B.B.  1987.  The Azolla Program of The Philippines.  In:  Azolla Utilization.  IRRI, ManilaPhilippines. Proceeding of The Workshop on Azolla Use.  Fozhon, Fujian, China. 31 March-5 April 1985. Pp. 189 – 195.
MÜLLER, H.A. 1994.  Nitrogen dynamics and losses in a urea fertilized Azolla-Rice System.  Thesis.  Georg-August University, Göttingen, Germany.
Noviyanti, H. 2003. Manfaat Pemberian Azolla dan Zeolite untuk Konservasi Amonium dalam Lumpur Sawah.  Skripsi. Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.
Nurois. 2003.  Manfaat Pemberian Azolla dan Zeolite terhadap Konservasi Amonium dalam Air Sawah Setelah Pemupukan N. Skripsi. Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.
Permentan nomor 28/PERMENTAN/SR.140/2/2009 tentang Standar Mutu Pupuk Organik. (On-Line) http:// nasih.files. wordpress.com /2010 /06/permentan-28-140-th-2009.pdf.
Roger, P.A., R. Jimenez, and S.S. Ardales.  1991.  Methods for Studying Blue-Green-Algae in Ricefield: Distributional Ecology, Sampling Strategies, and Estimation of Abundance.  IRRI. Los-Banos
Roger, P.A.  1982.  Research on Algae, Blue-Green-Algae, and Phototrophic Nitrogen Fixation at IRRI.  IRRI.  Los-Banos.
Roger, P.A., and J.K. Ladha.  1992.  Biological N2 Fixation in Wetland Rice Field: Estimation and Contribution to Nitrogen Balance.  Plant and Soils.  141: 41-45.
Simamora, S dan Salundik. 2006. Meningkatkan Kualitas Kompos. Agromedia Pustaka, Jakarta.
Simanungkalit, R.D.M., D. A. Suriadikarta, R. Saraswati, D. Setyorini, dan W. Hartatik. 2006.  Pupuk Organik. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Lahan Pertanian, Bogor.
Sutanto, R. 2002. Pertanian Oganik: Menuju Pertanian Alternatif dan Berelanjutan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Stevenson, I.L. and J.W. Rouatt. 1953.  Qualitative studies of soil micro-organisms. Canadian Journal Botany 31: 438-447.
Peoples, Mark. B., and Eric. T. Craswell. 1992.  Biological Nitrogen Fixation: invesment, expectation, and actual contribution to agricultura. Plant and Soil 141: 13-39, 1992. Kluwer Academic Publisher, The Netherlands.
Roger, P.A. 1995. Biological N2-fixation and Its Management in Wetland Rice Cultivation. Fertilizer Research 42: 261-276, 1995. Kluwer Academic Publisher, The Netherlands.
Tel-Or, E., E. Bar, C. Watad, O. Klein, and C. Forni. 1991.  Structure, Metabolism and Nitrogenase Regulation in The Azolla-Anabaena Association.  In: M. Polsinelli, R. Materassi, and M. Vincenzinni (Eds.). 1991. Nitrogen Fixation. Proceeding of The Fifth International Symposium on Nitrogen Fixation with Non-Legumes,  Florence, Italy, 10-14 Sept. 1990. Kluwer Academic Publishers. Pp. 388-398.
Vlek, P.L.G., M.Y. Diakite, and H. Moeller.  1995.  The Role of Azolla in Curbing Ammonia Volatilization from Flooded Rice System.  Fertilizer Research.  42:165-174.
Walker, L.R., and R. del Moral. 2003. Primary Succession and Ecosystem Rehabilitation. Cambridge University Press. Cambridge, New York, Melbourne, Madrid, Cape Town, Singapore, Sao Paulo.
Watanabe, I., K.K. Lee, B.V. Alimagno, M. Sato, D.C. del Rosario, and M.R. de Guzman.  Biological Nitrogen Fixation: In Paddy Field Studied by In Situ Acetylene-Reduction Assays.  IRRI Research Paper Series.  No. 3, 1977.  The IRRI, PO Box 933, Manila, Philippines.
Watanabe, I., and W. Cholitkul.  1979.  Field Studies on Nitrogen Fixation in Paddy Soils.  In: Nitrogen and Rice.  IRRI, Los Banos, Philippines. P.p. 223-239.
Watanabe, I., S.K. De Datta, and P.A. Roger.  1987.  Nitrogen Cycling in Wetland Rice Soils.  In:  Wilson, J.R. (Ed.).  1987.  Advances in Nitrogen Cycling in Agricultural Ecosystems.  Proceeding of the Symposium on Advances in Nitrogen Cycling in Agricultural Ecosystem held in Brisbane, Australia, 11-15th May 1987.  C.A.B.  International, Wallingford, UK. P.p. 239- 256.
Widyasunu, P.  1997.  The Role of Azolla microphylla in Reducing The Ammonia Volatilization in Flooded Rice Fertilized with Urea.  Thesis. Georg-August University, Goettingen, Germany.
Widyasunu, P., P.L.G. Vlek, A.M. Moawad, and I. Anas.  1998.  Ability of Azolla in Reducing Ammonia Volatilization in Waterfed Rice Field.  Agrin. Vol. 2 No. 4 April 1998. P.p. 24-38.
Widyasunu, P., Bondansari, M. Rif’an.  2000.  Penilaian Kualitas Tanah Berdasarkan Dinamika Bahan Organik Tanah di Lereng Selatan Gunung Slamet Wilayah Kabupaten Banyumas.  Laporan Hasil Penelitian. Fakultas Pertanian UNSOED, Purwokerto.
Widyasunu, P., Bondansari, M. Rif’an.  2000.  Pengujian Status Asam Amino Tanah dan Korelasinya dengan Bahan humik Tanah pada Lahan Kering untuk Mendukung Rekomendasi Pemupukan Nitrogen.  Laporan Hasil Penelitian.  Fakultas Pertanian UNSOED, Purwokerto.
Widyasunu, P., Bondansari, M. Rif’an.  2001.  Pengujian Hubungan Diantara: Humifikasi Bahan Organik Tanah, Tingkat Degradasinya, dan Aktivitas Pertanian dalam Ekosistem yang Berbeda.  Laporan Hasil Penelitian.  Fakultas Pertanian UNSOED, Purwokerto.
Widyasunu, P., M. Rif’an, dan Bondansari. 2003. Meningkatkan Sinergisme Batuan Fosfat Alam dengan M-Bio Melalui Pemanfaatan Bahan Humik dari Kompos Centrosema pubescens Ultisol yang Ditanami Kedelai. Laporan Hasil Penelitian. Universitas jenderal Soedirman. Purwokerto.
Widyasunu, P, Kurnia Sari, dan H. Purwanti. 2006.  Pemanfaatan Kompos Berbasis Biomassa Azolla microphylla, Pemupukan Urea dan Batuan Fosfat Alam Terhadap Keharaan N dan P Tanah Sawah. Kolaborasi Riset. (belum dipublikasikan).
Widyasunu, P. dan S. Atmodjo. 2009. Manfaat Pemberian Pupuk Organik dan Mikoriza untuk Reklamasi Lahan Bekas Penambangan Pasir Batu pada Fisiografi Perbukitan Kabupaten Banyumas. Laporan Hasil Penelitian. Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.
Widyasunu, P. 2009. Data primer perkembangan Azolla microphylla pada kotak bank Azolla dan petakan sawah petani dan dinamika pH, redoks, dan temperatur air di bawah populasi Azolla. Dalam: Widyasunu, P. 2010. Peranan Azolla microphylla untuk Go Padi Organik. Proceeding Seminar Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Tata Ruang Peternakan Rakyat Produktif Guna Mendukung Pertanian Berkelanjutan untuk Meningkatkan Kualitas Hidup Masyarakat (dalam preparasi diterbitkan oleh Dewan Kepakaran Panitia). Program Magister Lingkungan, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.
Widyasunu, P. 2010. Peranan Azolla microphylla untuk Go Padi Organik. Proceeding Seminar Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Tata Ruang Peternakan Rakyat Produktif Guna Mendukung Pertanian Berkelanjutan untuk Meningkatkan Kualitas Hidup Masyarakat (dalam preparasi diterbitkan oleh Dewan Kepakaran Panitia). Program Magister Lingkungan, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.
Widyasunu, P., Abubakar, dan T. Ariati 2010 a. Manfaat Pemberian Bokhasi dan POC dan Bokhasi Berbasis Biomass Azolla microphylla untuk Keharaan N dan P Padi Pandanwangi Metode SRI. Laporan Hasil Penelitian. Fakultas Pertanian, Unsoed, Purwokerto.
Widyasunu, P., R.G.B. Gunawan, dan J.F.D. Boma. 2010 b. Data Primer Riset Praktikal: Budidaya Azolla microphylla untuk pakan ikan lele dan nila menggunakan kolam terpal di pekarangan.
Widyasunu, P., Sari W. Utami, dan M. Arafat. 2011 (a). Data Primer: hasil analisis serapan N dan P oleh padi Pandanwangi organic SRI. Laboratorium Tanah. Fakultas Pertanian, Unsoed, Purwokerto.
Widyasunu, P., Abubakar, dan T. Ariati. 2011 (b). Laporan Tambahan Lengkap Riset: “Manfaat Pemberian Bokhasi dan POC dan Bokhasi Berbasis Biomass Azolla microphylla untuk Keharaan N dan P Padi Pandanwangi Metode SRI”. Laporan Hasil Penelitian. Fakultas Pertanian, Unsoed, Purwokerto.
Widyasunu, P., Abubakar, dan T. Ariati. 2011 (c). Efek Bokashi dan POC Basis Biomassa Azolla microphylla serta Jara Tanam Dakhil Dalam terhadap Pertumbuhan dan Hasil Padi Pandanwangi. Prosiding Seminar Nasional: Pemuliaan Berbasis Potensi dan Kearifan Lokal Menghadapi Tantangan Gobal. Diterbitkan oleh Perhimpunan Ilmu Pemuliaan Indonesia Komda Banyumas dan LPPM Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto,8-9 Jui 2011. Hal: 254-259.ISBN: 978602192390.
Widyasunu, P., Supartoto, dan Roesdiyanto. 2011 (d). Penerapan Teknologi Perma-kultur Padi, Sayuran, Ikan Lele, dan Itik Menggunakan Pupuk Organik dan Pakan Berbasis Biomassa Azolla microphylla Menuju Pertanian Mandiri. Laporan PKM Berbasis Riset 2011. LPPM, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. 120 hal.
Widyasunu, P., Supartoto, dan Roesdiyanto. 2011 (e). Penerapan Tenologi Permakultur Padi, Sayuran, Ikan Lele, dan Itik Input Basis Azolla microphylla Menuju Pertanian Mandiri. Artikel Ilmiah PKM Berbasis Riset 2011. LPPM, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto. 44 hal.
Widyasunu, P., dan B. Siswo Susilo. 2011. Uji Bokashi, Pupuk Organik Cair, dan Air Kolam Lele Basis Biomassa Azolla microphylla untuk Pengelolaan Hara Padi Organik  SRI. Prosiding Seminar Nasional: Pengembangan Sumberdaya Pedesaan dan Kearifan Lokal Berkelanjutan. Diterbitkan oleh LPPM Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, 23-24 November 2011. Hal: 398-410.Cetakan I, November 2011. ISBN:978-979-9240-51-6.
You, C., R. Zhang, and W. Song.  1987.  Some Aspect of Rice-Azolla Association in Northern China.  In: Azolla Utilization.  Proceeding of The Workshop on Azolla Use.  Fozhon, Fujian, China. 31 March-5 April 1985. Pp. 189-195.
Wolf, S., and Georg, H. Snyder. 2002. Sustainable Soils The Place of Organic Matter in Sustaining Soils and Their Productivity. Food Product Press. Imprint of The Haworth Press, Inc. New York, London, Oxford.
Yusnaini, S.  1995.  Peranan Azolla dalam Mensubstitusi Kebutuhan Nitrogen Padi Sawah IR-64.  Thesis.  Program Pasca Sarjana, IPB, Bogor.
Zhang Zhuang-Ta, Ke Yu-Si, Ling De-Quan, Duan Bing-Yuan, and Liu Xi-Lian.  1987. Utilization of Azolla in Agricultural Production in Guangdong Province, China. In: Azolla Utilization.  Proceeding of The Workshop on Azolla Use.  Fozhon, Fujian, China. 31 March-5 April 1985. Pp. 141-145.





1 komentar: